Menghadapi Diri Sendiri

Gue berdiri di depan kaca. Samar-samar bertatapan dengan bayangan gue di sana. Sesekali gue menampar pipi gue sendiri, berusaha menyadarkan diri, atau sekadar berusaha  memastikan apa yang sedang gue alami bukanlah mimpi.

ngaca

Gue ingat betul bagaimana 300 orang bangsa Sparta menaklukkan ribuan pasukan Persia. Scene bagaimana Hitokiri Batosai menyabet semua musuhnya. Namun ini bukan tentang sebuah kolosal, hal-hal berbau legenda, ataupun cerita tentang naga. Ini adalah sesuatu yang lebih nyata. Tentang gue melawan diri gue sendiri. Bagaimana gue meruntuhkan ego, menumbangkan prasangka, dan berusaha menundukkan harapan-harapan dalam diri sendiri.

Gue masih melihat sosok di depan kaca. Kali ini, sesekali mengernyitkan dahi. Nggak habis pikir apa yang sedang gue pikirkan. Ada kekalutan yang gue rasakan.

Gue nggak suka jatuh cinta.

Jatuh cinta membuat gue menganggap sesuatu yang mungkin aja bukan buat gue, adalah buat gue. Begitu melelahkan menebak-nebak sesuatu yang ingin sekali dipastikan, namun nggak cukup punya ruang untuk memastikan.

Jatuh cinta membuat gue seringkali melakukan apa yang seharusnya nggak gue lakukan. Perbuatan-perbuatan bodoh, yang sok-sokan spontanitas, tapi seringnya merusak keadaan.

Jatuh cinta membuat gue berkali-kali melakukan hal di luar akal sehat. Sesuatu yang tadinya nggak pernah terpikirkan untuk bisa gue lakukan. Jadi orang nekat. Jadi orang gila. Kehilangan logika.

Tapi gue adalah laki-laki. Gue harus tetap menggunakan logika.

Kadang cara terbaik untuk menghindari sakit hati,… adalah dengan menyakiti hati itu duluan, oleh diri sendiri. Cara terbaik untuk terbebas dari kekecewaan,… adalah dengan membunuh harapan-harapan dalam diri dengan tangan sendiri. Cara terbaik untuk bisa tetap waras,… adalah dengan berusaha mendamaikan logika dan hati.

Di sisi lain, gue nggak cukup tega untuk melakukan itu semua. Dan mendamaikan logika dengan hati? Bukan perkara mudah.

Pada akhirnya, gue coba berteriak tapi tak terdengar, berbisik tapi tak lirih, dan bergeming tapi terlalu gaduh. Pada diri sendiri. Cuma berusaha mengendalikan apa yang menjadi asumsi, memberikan sugesti, dengan mengatakan,

Bahwa lo sedang tidak berusaha membuat orang lain menjadi kekasih lo, ataupun mau untuk hidup bersama lo. Mau atau tidaknya dia untuk sama lo? Itu belakangan. Lo cukup hanya mencoba membuatnya jatuh cinta. Lo cuma bisa berusaha menjadi tempat yang nyaman, tempat bersandar, yang tetap menjadi diri lo sendiri, bukan orang lain. Kali ini, lo sedang berusaha membuatnya jatuh cinta. Dan jika ternyata dia sudah jatuh cinta? TERUSLAH BUAT DIA JATUH CINTA LAGI! JANGAN BERHENTI. Dan apabila dia bersama yang lain bukan sama lo, ITU BUKAN BERARTI SEBUAH AKHIR! JANGAN BERHENTI. Perjuangan kali ini berbeda. Ini semua bukan cuma tentang siapa yang terbaik, bukan pula tentang siapa yang paling menjanjikan. Tapi ini semua tentang siapa yang paling tulus, dan tidak menyerah meski terlihat bodoh.

Gue menampar diri gue sekali lagi. Memejamkan mata. Nggak ada lagi sosok angkuh, pesimis, optimis, ataupun realistis. Cuma sesosok manusia yang akan berusaha melakukan apa pun setulusnya.

Good thing comes to those who wait, then better thing comes to those who chase it, and the best thing comes to those who fight for it.

Semoga.

Source:ceritaoka.wordpress.com

No Responses

  1. Yuniar Wijananto April 20, 2016
  2. Anonymous April 20, 2016

Add Comment