Ngopi Ala Rangga dan Cinta AADC2 di Klinik Kopi

Berkunjung ke Jogja memang tidak pernah salah, ini entah keberapa sekian kalinya gue ke Jogja. Ada rasa penasaran tentang beberapa tempat di Jogja setelah kota ini menjadi semakin hits setelah film AADC2. Yang menarik perhatian gue saat itu adalah sebuah coffee shop di mana Rangga dijejali cerita tentang kopi oleh baristanya. Gue sebenarnya bukan penikmat kopi, tapi karena rasa penasaran gue pun googling dan menemukan Klinik Kopi.

Tidak sabar rasanya berkunjung dan mendengar cerita dari kopi yang gue pilih. Terletak di Jl. Kaliurang km 7,5 dan dekat dengan gardu PLN, tidak sulit mencari lokasi Klinik Kopi ini walau masuk ke gang kecil. Di sana kita akan menemukan bangunan mungil yang…. ramai oleh parkiran mobil dan motor di luarnya. Bersiaplah untuk Klinik Kopi yang fenomenal.

Credit video: ig ardy_putra

Rasa penasaran akan tempat ngopi Rangga dan Cinta di film AADC2, akhirnya gue kesampaian juga menikmati kopi yang memang bener-bener berbeda dari kopi pada umumnya. Klinik Kopi terkenal sebagai kedai kopi yang tidak menyediakan susu dan gula bagi pelanggannya. Di sini, kita dipaksa untuk menikmati “kopi yang sesungguhnya” sambil mendengar cerita dari sang story teller.

“Antrian nomor 11 ya Bro, sekarang baru nomor 5. Kalau mau menunggu sambil lesehan disitu, kalau sambil Ngerokok atau Vapor disana yaa”. Ucap mas Pepeng yang sangat ramah. Gue datang ke Klinik Kopi sekitar jam 5 sore, belum banyak antrian memang.

Sambil menunggu antrian gue pun mondar-mandir ngeliat sana-sini di Klinik Kopi, dan nemuin ginian.. hahaha..

“Nomor 11!”
Gue melirik jam di hape yang menunjukan pukul 6 kurang. Giliran gue nih.
“Bro sendirian?”
“Berdua mas”, ujar gue dengan ganteng.
“Halo Bro, saya Pepeng. Mas sama Mbaknya dari mana?”, sambut mas Pepeng dengan topi abu-abu yang khas dan menjabat tangan kami dengan hangat.
Selanjutnya kita berbincang sedikit dan kami berdiri di hadapan beberapa toples berisikan biji kopi. Mas Pepeng langsung “memaksa” gue menonton video perjalanannya sewaktu ke Sumatera Barat dan berburu biji kopi langsung kepada petani. Menarik sekali bagaimana mereka menemui petani kopi dan sedikit mengedukasi mereka tentang mengolah hasil panennya.

“Mas suka kopi yang bagaimana? di sini kami gak ada susu dan gula” tanya Mas Pepeng saat selesai menceritakan pertemuannya dengan Bu Nur, salah seorang petani kopi di Solok, Sumatera Barat.
JRENG! Gue yang awam soal kopi ini pun terdiam dan mengaku kalau masih sangat awam tentang kopi. Makin gelagapan bahwa Klinik Kopi tidak menyediakan menu! Gue mau ngejawab Good Day atau Long Black seperti waktu gue meranin Rangga di AADC2. Tapi niat itu gue urungkan dan ngejawab “Yang gak terlalu pahit aja mas!”. Kemudian seperti pasien yang sudah didiagnosa apa penyakitnya, Mas Pepeng lalu menjelaskan rasa dari masing-masing biji kopi yang ada di toples. Akhirnya kami pun memilih “Sari Manih” dan “Bu Nur”.

Dari biji kopi yang dimasukkan ke grinder, lalu kemudian di-brewing dengan metode manual brew-pour over, Mas pepeng terus bercerita mengenai kopi-kopi yang tersedia di sana. “Kami langsung ke petani karena ingin dapat kopi yang beda. Sengaja mengunjungi desa-desa yang tidak terkenal,” jelasnya lagi sambil terus meramu kopi buat kami. Kemudian tak lama segelas kopi Sari Manih dan Bu Nur tersedia, “Kopinya jangan sampai dingin yaa, lebih enak kalau masih hangat”, kata Mas pepeng, dan gue mulai mnghirup aroma kopi yang wangi. Lalu? Dengan deg-degan gue minum, single origin Sari Manih, tanpa gula tanpa susu, yang berwarna bening kecokelatan. Lah, gak pahit?

“Kopi yang pahit itu karena mereka menyangrainya terlalu lama sehingga biji kopi gosong, Mas. Sementara kami di sini light roasted, nggak sampai gosong rasa pahit nggak terlalu kuat,” kata Mas Pepeng. Kopi Sari Manih yang gue minum tidak berasa terlalu pahit dan sedikit kecut. Enak!

Untuk membayar segelas kopi seharga Rp.20.000, tidak ada meja kasir. Gue harus meletakkan uang di tempat yang telah disediakan dan mengambil sendiri kembaliannya. Semacam kantin kejujuran kalau di sekolah, hahaha..

Ada satu quote yang gue suka dari Mas Pepeng,

“Semua orang itu bisa bikin kopi, sama aja dengan semua orang bisa nyanyi, tergantung keahlian dan selera masing-masing.”

Add Comment