Secangkir Kopi, Yang Kehilangan Rasa Pahitnya Sendiri

“Mbak, saya pesan kopi, pisahkan pahitnya ya”, pintaku pada pelayan ini. “Hidup, tak boleh memilih rasa nyeri”, jawabnya, menjauh pergi.

“Baiklah, satu cangkir saja, kopi tanpa gula, agar pahitnya membuat luka makin dewasa”, jawabku, sambil menatap daftar menu.

Ngopi

“Pesan saja kopi yang kamu mau, siapa tahu, pada teguk terakhir kopimu; luka menemukan takdir yang ia mau”, pelayan cafe itu menceramahiku.

“Seperti apa kau tahu tentang rasa sakitku, apakah sebaik pengetahuanmu tentang rasa pahit kopiku”, kataku.

“Minum saja kopimu, jangan habiskan waktumu dengan bertanya padaku. Rasa pahit, dan juga rasa sakit, punya deadline sendiri”, kata pelayan itu, malu-malu.

“Terima kasih, Mbak, telah memberi rasa pahit pada kopiku. Boleh minta nomor teleponmu, nanti kutelepon kau; kalau sudah bisa kulupakan rasa sakitku”, pintaku.

“Tak perlu menghubungiku, sebab saat kau telah melupakan rasa sakitmu, aku tak lagi menjadi pelayan di cafe itu”, jawabnya, ragu-ragu.

Kutinggalkan cafe itu pelan-pelan, ada kesedihan dan juga rasa pahit yang menetes pelan-pelan. Kubaca sebuah pesan pada bon yang baru saja aku bayarkan: “selain kopi, tak ada lagi kekasih yang tak menyakiti”.

 

Source: pemetikluka.wordpress.com

2 Comments

  1. benk2 April 4, 2017

Add Comment