Daftar Lengkap Alternatif Pengganti Pertanyaan Basa-Basi Nyebelin Ala Indonesia

Orang Indonesia pas lagi kepo, atau berusaha basa-basi ramah tapi malah jadi kepo urusan pribadi, hasilnya seringkali ngeselin bagi yang ditanya. Kadang pelakunya keluarga sendiri, sahabat, tetangga, partner arisan, teman SD, teman karang taruna, kenalan pas outing bareng, temen travelling, orang di kursi sebelah pas naik kereta, driver ojek online, dan banyak lagi lainnya. Niat awalnya mungkin baik. Basa-basi, atau melepas kangen. Bawaannya jadi pengin tanya apapun, terutama nyerempet info yang sifatnya personal. Hasil akhirnya jadi enggak enak deh. Bikin keki yang ditanya.

Kenapa sih banyak orang terbiasa melontarkan pertanyaan yang bukan urusanmu Mz Mb?!

Saya merenungkan lagi topik ini, gara-gara pengalaman pekan lalu pas ketemu kawan-kawan lama. Kenalan lain datang belakangan, lalu pertanyaan yang menusuk itu datang. “Mau ngasih undangan nih?”

Mood yang semula jingkrak-jingkrak untuk reunian mendadak kisut hanya karena satu pertanyaan itu. Ya enggak kisut-kisut amat sih (tetep aminin dalam hati), tapi ‘nyebar undangan’ kan enggak murah. Apalagi kalau pakai nikahan adat. #curhat #tapiakusemangat

Banyak yang turut mengesalkan hal serupa, saat banyak kawan atau sanak saudara yang sudah lama tidak bertemu eeetapi ujug-ujug cuma ngeburu-buru biar cepat kawin. Walau begitu, mereka mengaku sudah ‘biasa’ mendengar pertanyaan menyebalkan seperti itu. Seakan kalau belum ditanya “kapan kawin?” sampai “kapan mati?” kita belum sah jadi orang Indonesia.

“Ketika lau semakin tua dan belum nikah, maka [dapat pertanyaan] ini sudah biasa,”

Yha Semesta~

Pertanyaan menggelitik—sekaligus menyebalkan—itu kerap kali terdengar. Enggak pandang bulu. Menyasar mereka yang muda maupun yang sudah berumur dan berumah tangga.

Maka, untuk menanggulangi agar pertanyaan menyebalkan tidak menjadi tradisi yang diulang oleh generasi millenials saya mencoba menghadirkan panduan ini. Isinya adalah daftar jenis pertanyaan yang ngeselin dilengkapi alternatif penggantinya yang lebih beradab (tanpa harus terkesan mencampuri urusan orang lain). Coba yuk kita praktikkan bersama-sama, agar kamu enggak nyebelin-nyebelin amat ketika sebenarnya mencoba ramah.

Skenario: Ketemu keluarga/teman yang mau kuliah

Pertanyaan yang sering muncul dalam situasi kayak gitu biasanya ini:

“Kok kuliah di swasta sih? Bagusan kampus negeri…”
“Kenapa malah ambil jurusan ini? Bukannya sekarang yang dicari jurusan itu?”
“Kamu kuliah jurusan A? Susah loh nanti cari kerjanya…”

Yha tuan dan puan, menggemazkan sekali bukan? Biarkan ia tarik napas sejenak setelah dicekik soal ujian nasional yang enggak sesuai bahan ajar di sekolah. Jika bertemu dengan kawan atau saudara yang lagi persiapan kuliah (termasuk yang baru dapat beasiswa ke luar negeri), ada baiknya tanya gini aja, “ohh, kuliah di kampus A. Apa saja fasilitas/kurikulum pengajaran/risetnya di sana?”

Bukankah terdengar lebih menyenangkan?

Skenario: Ketemu sama yang baru lulus kuliah

Biasanya, mereka yang baru dapat gelar sarjana/master sering ditanya begini:

“Wah udah lulus nih. Kapan kawin?”
“Kapan kawin?”
“Mau kerja di mana?”
“Kok nganggur sih? Buruan cari kerja lah,”

Teman-teman, tulunglah, dia baru saja lulus kuliah dan selamat dari peliknya perskripsian hiks. Ketimbang ribut bertanya kapan kawin, maka ada baiknya bertanya seperti ini, “Selamat ya sudah lulus kuliah! Kira-kira mau langsung kerja, lanjut sekolah lagi, atau ada rencana lain?”

Dengan begitu, si doi yang ditanya enggak merasa terbebani secara moril dan materiil—atau malah terpicu untuk menggamparmu—karena ditodong penghakiman dan tuntutan.

Skenario: Ketemu keluarga/teman yang baru dapat kerja

Survei (abal-abal) membuktikkan mereka yang baru diterima bekerja sering mendapat pertanyaan seperti ini:

“Gajinya oke?”
“Bagus emang perusahaannya?”
“Kapan nih traktiran gaji pertama?”

Kenapa pengin tau banget gajinya berapa, termasuk minta ditraktir, bulan depan cicilan motor/mobil/sewa kos/KPR-kami gantian kamu bayari yha! *menangis* Untuk mengganti pertanyaan yang sekejap bisa bikin hati mencelos tadi, bisa loh bertanya semacam ini,

“oh kerja di perusahaan X ya. Tugas/tanggung jawabmu apa saja?”

Dengan bertanya seperti ini, si penjawab bisa dengan leluasa bercerita dan menjelaskan pekerjaannya, tanpa harus tertekan buka-bukaan dapur (kecuali mau). Dan yang terpenting: terbebas dari asumsi bakal ditagih traktiran hanya karena baru dapat kerja.

Skenario: Ketemu keluarga/teman yang kerjanya freelancer

Pekerja lepas/freelance belum jadi budaya lazim di Indonesia (kecuali kota-kota besar). Jadi, sudah sebaiknya pekerja lepas waspada mendapat pertanyaan macam ini ketika bertemu kerabat atau kenalan:

“Kok kamu terus kerja serabutan?”
“Kok nggak kerja kantoran sih?”
“Emang ada duitnya?”

Yassyalam, pertanyaan begini nih yang bikin spaneng dan bludrek. Sering kali kudengar teman-teman freelancer mengeluh sebab dianggap menganggur dan enggak produktif. Padahal kerja freelance pun punya tuntutan kualitas yang tinggi dan musti bersiasat untuk menjaga stabilitas keuangan.

JADI daripada ngelempar pertanyaan yang mengesankan freelance tak ubahnya menganggur, sila bertanya seperti ini, “lagi ada proyek apa?”, “lagi longgar atau padat nih proyeknya?”, atau “wah kamu banyak dong portofolionya? Mau lihat dong?”

Lebih bagus lagi kalau enggak cuma nanya, tapi sekalian kasih proyek tambahan ye kan.

Skenario: Basa-Basi pas ketemu profesional muda usia 20’an hingga 30 awal, tapi masih single

Ini kasus yang paling laten menimpa anak muda Indonesia. Daftar pertanyaan ngeheknya banyak, tapi saya pilih lima paling ngeselin:

“Karirmu oke, gaji dua-tiga digit, tapi kok belum menikah?”
“Buruan menikah, entar susah punya anak loh..”
“Jangan ngejar kerjaan banget makanya nanti gak ada yang mau,”
“Udah kurusan nih sekarang, calon dah ada belum?”
“Ngana punya mama tuh udah mau gendong cucu…”

Konon tanda kamu orang Indonesia sejati adalah saat punya keinginan besar memastikan orang lain sukses beranak-pinak. Tapi apa iya makna hidup seorang manusia hanya ditentukan dari berapa anak yang ia punya?

Kalau ketemu kawan yang lagi sibuk berkarier di tengah umur produktifnya, lebih baik tanya begini aja sih, “wah, keren banget! Ada rencana mau menekuni bidang lain?” atau ucapan yang sederhana jauh lebih aman untuk menghindarkan terjadinya gontok-gontokan di belakang lho. Misalnya, bilang aja, “sukses terus ya kariernya!”

Sederhana dan lebih enak didengar. Kesannya juga enggak kayak maksa orang lain beranak. Kecuali yang nanya mau bayarin susu dan pendidikannya. Sekalipun yang tanya ortu, kadang juga bisa memicu prahara keluarga sih, wkwkwkwk

Skenario: Ketemu keluarga/Teman yang baru jadian

“Kapan kawin?”
“Kapan undangan? Segerakan lah”

Pembahasannya ntar dulu, karena sepaket sama kasus beginian:

Skenario: Ketemu sama yang udah lama jadian

“Kapan kawin?”
“Kapan undangan? Segerakan lah!”

Jadi begini saudara-saudari terkasih.. Sekali lagi saya ingatkan… biaya kawin, belum ditambah dengan pernak-pernik resepsi, kostum, seragam bridemaids (cieee, jahit dress ajha sampe 300ribu nich kak~), sampai print undangan bisa habis berapa kak huhu. Tanpa harus ditanya-tanya, pastilah sebuah hubungan berujung pada pernikahan. Kalau memang jodohnya. Dan udah cukup duitnya.

Ketika lau enggak punya pertanyaan berfaedah selain nanyain kapan kawin, cukuplah doakan “langgeng terus yaaa,” atau kalau kepo-kepo lucu, boleh kok tanya “cieee gimana ceritanyaa kenal dari manaa?”

Generasi millenials Indonesia sudah jutaan kali curhat di medsos kalau enggak suka ditanya perkara privasinya—khususnya soal kawin. Maka, mari kita serius mengakhiri tradisi jahiliyah tersebut!

Skenario: Ketemu sama yang baru kawin

Situasi kayak gini menyebalkan, karena biasanya yang ditanya merasa hidupnya sudah paripurna. Sudah jadi orang dewasa seutuhnya dan menjadi bagian masyarakat ((arus utama)) di Indonesia. Hahahahaha. Ilusi. Pertanyaan kepo akan menghantuimu ke liang lahat lho. Terutama ketika kerabat atau sobat lamamu bertanya seperti ini:

“Kapan punya anak?”
“Sekarang tinggal di mana? Kok cuma di kontrakan/apartemen? Kok masih tinggal sama mertua?”
“Cicilan KPR kelar kapan?”

Yha Gusti, sudah pas pacaran dikejar-kejar kapan kawin, sekarang sudah menikah pun masih ajaa dibombardir pertanyaan yang bikin ngeelus dada Nikita Mirzani kayak gini. Jika ada kengkawan yang baru saja menikah, adalah baik untuk mendoakannya, “langgeng yaa, sakinah mawadah warohmaah,” atau bisa juga tanya “gimana sih kiat-kiat menabung buat menikah?”

Pertanyaan lebih bermanfaat, niscaya yang nanya juga dapet tips dan inspirasi, gengs. Hhhh.

Fiuuhh…lumayan panjang juga ya daftarnya.

Intinya, manusia (Indonesia) cenderung gampang penasaran, banyak tanya, dan selalu mau tahu kehidupan manusia lainnya. Enggak sepenuhnya keliru kok. Cuma ya mbok dipikir sedikit, kira-kira pertanyaannya menyinggung dan judging atau enggak. Bukankah lebih enak jika kita dikenang karena selalu tulus saat memberi perhatian sebagai keluarga atau sahabat?!

Lebih banyak mencari tahu karya seseorang, apalagi yang udah lama enggak ketemu, ribuan kali lebih baik ketimbang malah nanya nirfaedah macam kapan kawin, kapan beranak, sampai kepo kapan cicilan kelar. Begitulah bung dan nona.

Wassalam!

Sumber: VICE

Add Comment