Ikhlas Itu Nggak Semudah Bersabar

Andai kata ikhlas itu semudah bersabar, barangkali hati manusia itu dangkal. Ya, dangkal. Kenapa gue bisa bilang begitu? Karena berarti perasaan itu mudah untuk menyerah. Kita jadi nggak mengenal yang namanya berjuang keras demi meraih sesuatu –apapun itu, karena dari awal kita selalu merelakan dengan dalih ikhlas. Bahkan untuk hal-hal yang memang menjadi hak kita.

Terkadang, ketika kita mendapatkan masalah yang pelik seperti harus mengikhlaskan seseorang, Tuhan seolah nggak membantu apa-apa untuk menyelesaikan perkara itu. Seakan-akan Tuhan nggak peduli dan ogah mengabulkan ribuan doa yang diucapkan hingga mulut kita berbusa.

Kita ditinggal sendirian untuk menghadapinya.

sabar

Misalnya seperti ini…

Kamu udah cinta banget sama pacarmu –katakanlah mentok, dan kalian udah bertahun-tahun menjalin hubungan sampai akhirnya kamu yakin dialah jodohmu. Namun tiba-tiba terjadilah sebuah peristiwa yang nggak pernah terbayangkan, yaitu dia harus menikah dengan orang lain karena keinginan orang tuanya.

sad

Lalu, apa mau dikata? Kamu nggak bisa berbuat apa-apa untuk mengubahnya karena dia pun nggak berdaya. Kamu hanya pasrah menerima kenyataan dia menjadi milik orang lain selamanya, sedangkan hati kamu masih sangat mencintainya dan belum rela, hingga kamu merasa cinta di hati kamu itu habis, udah nggak bisa jatuh cinta lagi sama orang lain karena harapan yang telah lama ditabung bersama mimpi-mimpi tentang masa depan sudah hancur bersama kekecewaan. Kekecewaan yang membuat segalanya nggak lagi berarti, selain mati.

sadness

Tapi kamu nggak pernah tau, sebenarnya Tuhan justru sedang tersenyum menerima doa-doa yang sampai di meja kerjaNya. Dia hanya ingin melihat seberapa jauh dan keras usaha kamu menyelesaikannya. Kamu dibiarkan untuk mengasah ketabahan dan keteguhan hati dengan cara kamu sendiri, dan ternyata itulah cara Tuhan membantumu; memberikan kamu mata pelajaran soal mengikhlaskan.

Mengikhlaskan itu butuh proses yang sulit dan butuh waktu, nggak seinstan masak indomie lima menit mateng terus bikin perut kenyang. Bertahun-tahun kamu berusaha menelan pil pahit kenyataan yang selalu kamu tampik, padahal kamu ingin segera sembuh.

Hingga akhirnya, pada momen yang nggak terduga, hadirlah seseorang yang jatuh cinta padamu dan tulus. Dia berusaha keras untuk membuatmu melihat cintanya. Dia berjuang keras mendobrak pintu hati kamu yang kuncinya udah dibuang ke dasar samudera. Dia ngotot membuat kamu yakin bahwa cinta itu masih ada, dan selalu ada. Hanya tentang bagaimana kamu ikhlas menerima.

Dan, pada akhirnya, kamu ikhlas dengan masa lalumu dan memaafkan diri. Kamu menerima seseorang itu untuk menorehkan namanya di hatimu setelah melalui perjuangan berdarah-darah demi membuat kamu percaya cinta itu terlahir kembali. Cinta yang jauh lebih baik.

loved

Doa kamu tentang keikhlasan itu terkabul dengan usaha kamu sendiri.

Well, ya, hahaha. Kita nggak pernah tau kejutan apa yang sudah disiapkan oleh Tuhan untuk hidup kita. Hidup ini penuh rahasia. Ya, lucu memang, padahal kita sudah nyaman dan menikmati apa yang sudah ada dan dibangun dengan perlahan hingga menjadi sesuatu yang besar, lalu hancur begitu saja kayak mimpi buruk di siang bolong.

Namun ternyata Tuhan memberikan LEBIH dari apa yang kita inginkan, yaitu apa yang kita butuhkan di akhir perjuangan.

Ikhlas itu nggak semudah bersabar, tapi…, ikhlas itu membuat ketabahan kamu seluas langit dan ketegaran kamu terhadap cobaan jauh lebih teguh dari tameng baja perang. Ikhlas di dalam diri kamu itu membuktikan bahwa kamu manusia hebat yang nggak menyerah dan memilih membenci kenyataan. Tepuk tangan!

So, selalu ada hikmah yang dipetik dari sebuah permasalahan. Itulah kenapa ada kalimat. “Tuhan nggak memberi cobaan di luar batas kemampuan umatNya.” Toh, buktinya kamu sekarang bisa tersenyum dan menertawakan apa yang sudah-sudah, yang menjadi batu asah untuk menciptakan keikhlasan.

Source: nyunyu

Add Comment